• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Creative (Marketing) Broker 

    Yang pernah naik bis antar kota di terminal pasti tahu atau bahkan pernah merasakan dampak keberadaan calo. Mereka dengan sigap menyambut siapapun yang datang sejak dari pagar terminal. Mereka tidak peduli yang ditawari itu calon penumpang atau bukan. Hitung-hitungan mereka, dari sekian banyak yang ditawari pasti ada yang akhirnya tertarik. Cara klasik ala calo ini diikuti pula oleh bisnis lain seperti sektor pariwisata dan telekomunikasi dengan cara yang lebih canggih.

    Di sektor pariwisata, Online Travel Agency (OTA) seperti Agoda, Booking.com, dan sejenisnya seringkali mengirimkan email penawaran kepada kita. Awalnya mungkin kita pernah memasukkan email atau merespon email yang mereka kirim secara acak, kemudian selanjutnya mereka menjemput bola dengan rajin mengirim email berisi gimmick discount besar-besaran, weekend promo, dan promo kartu kredit tertentu. Email penawaran seperti ini cukup sering saya terima, bisa sampai dua hari sekali (Gambar 1). Bagi calon konsumen yang sedang merencanakan perjalanan dan tidak mau “ribet”, mereka akan merespon email tersebut dan mungkin akan langsung bertransaksi.

    wp_ss_20150219_0003

    Gambar 1. penawaran OTA

     

    Kenapa konsumen tidak langsung menghubungi hotel? Konsumen menganggap yang ditawarkan oleh hotel hanyalah sisi baiknya saja, sementara jika melalui OTA akan mendapatkan informasi yang seimbang. Dengan membangun sistem reservasi dan tambahan fitur review/testimoni + foto-foto dari konsumen sebelumnya, OTA bisa menjadi pilihan banyak orang dibanding website resmi hotel. Jika demikian, masih perlukah hotel membangun sistem reservasi di websitenya?

    Contoh ala calo di sektor telekomunikasi misalnya ketika kita masuk mall dan tiba-tiba menerima SMS penawaran discount dari salah satu restoran di mall tersebut. Layanan yang dikenal dengan nama LBS (Location Based Service) SMS ini pengirimnya adalah operator seluler, berdasarkan pesanan pihak restoran yang tentu saja memberikan pembayaran ke pihak operator seluler. Contoh lain dari LBS SMS bisa juga informasi tentang toko atau event di suatu tempat tertentu yang kita datangi atau sekedar kita lewati. Pernah suatu waktu saya menerima LBS SMS tentang discount restoran ketika sedang macet melintas di depan sebuah mall. LBS SMS bisa juga diterima dari operator seluler sendiri saat kita memasuki negara lain dan mereka ingin kita tetap menggunakan layanan mereka (Gambar 2). Banyak yang menganggap LBS SMS itu mengganggu, tetapi informasi seperti tentang KBRI saat saya memasuki Malaysia beberapa waktu lalu, menurut saya sangat bermanfaat (Gambar 3).

    wp_ss_20150219_0001

    Gambar 2. LBS SMS Kartu Halo

    wp_ss_20150219_0002

    Gambar 3. LBS SMS KBRI Malaysia

    Strategi marketing ala calo atau jemput bola ini tentunya bisa diterapkan di berbagai sektor bisnis, tinggal bagaimana kreativitas pelakunya untuk mencoba. Jika calo lebih kreatif dan mau berinvestasi besar untuk proses bisnisnya, bukan tidak mungkin profit yang didapat akan lebih banyak daripada pelaku bisnis aslinya. Selamat menjadi calo 😉

    Leave a Reply