• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Wirausaha mahasiswa: return sampai 300% per bulan. Mau??

    venture lauk-ku buffee

    Mata kuliah Entrepreneurship di Prodi Manajemen minggu ini telah menyelesaikan presentasi laporan E-Store Project masing-masing kelompok. Alhamdulillah E-Store Project yang merupakan praktek wirausaha berkelompok ini dapat berjalan lancar dalam 5 minggu pelaksanaannya. Diawali dengan pembuatan business plan, praktek bisnis yang menitikberatkan pada penerapan bisnis online selama 5 minggu ini memang terasa terlalu sempit, namun setidaknya dapat memberikan gambaran bagi para mahasiswa bagaimana memulai bisnis.

    Pada Semester Ganjil 2013-2014 ini saya mengampu 2 kelas Entrepreneurship, kelas B dan kelas H. Di kelas B terdapat 6 kelompok bisnis dan di kelas H terdapat 8 kelompok bisnis. Di awal semester saya biasanya menceritakan tentang hasil tugas praktek wirausaha mahasiswa periode sebelumnya. Dari 3 tahun terakhir keberlangsungan tugas ini, minimal terbukukan ROI (Return on Investment) sebesar 20% oleh kelompok bisnis mahasiswa. Bagi mahasiswa kelas B dan kelas H saat ini, tugas praktek wirausaha bertema E-Store Project salah satunya menjadi pembuktian kebenaran tentang ROI tersebut.

    Ada kemajuan jenis bisnis yang diajukan pada E-Store Project tahun ini. Jika tahun sebelumnya tidak ada yang berjenis jasa, tahun ini sudah banyak yang berani memulainya. Bahkan di kelas B, 3 dari 6 kelompok memilih jenis produk berbentuk jasa. Seperti diketahui, cukup tinggi kesulitan yang dihadapi jika tidak memiliki keunikan dalam menjalankan bisnis jasa. Dengan waktu pelaksanaan yang hanya 5 minggu, salah menerapkan ide bisnis jasa dapat berakibat rendahnya kinerja keuangan.

    Pelaksanaan E-Store Project kali ini kembali membuktikan – khususnya kepada mahasiswa – kebenaran ROI yang tinggi tersebut. Dari kelas B, efektif dalam 4 minggu berbisnis kelompok Choconana berhasil membukukan ROI sebesar 300%. Angka yang sangat menggiurkan apalagi jika dibandingkan dengan bunga tabungan saat ini yang hanya berkisar 4 – 6 p.a (4 sampai 6 persen PER TAHUN). Kelompok yang menjual pisang beku bertabur coklat aneka rasa ini menghasilkan laba Rp. 600 ribu dari omset Rp. 1.050.000,-. Secara total kelas B membukukan omset Rp. 5.010.000,- dan laba sebesar Rp. 1.541.000 hanya dalam 4 MINGGU.

    choconana

    Dari kelas H, ROI tertinggi diperoleh oleh kelompok MND (Meet Night Delivery) sebesar 277%. Secara total omset kelas H adalah Rp. 16.150.000,- dengan laba tercetak sebesar Rp. 3.839.500,-. Jika data kelas B dan kelas H digabung, tercatat omset sebesar Rp.21.200.000,- dan laba sebesar Rp. 5.380.500,-. Apabila bisnis mereka berlangsung selama 1 tahun dan berjalan stabil, diperkirakan akan tercetak omset sebesar Rp. 252.000.000,- dan laba sebesar Rp. 64.800.000,-. Data ini baru dari 2 kelas saja dari 8 kelas Entrepreneurship yang berjalan.

    MND

    Meskipun ROI dan beberapa aspek keuangan bukanlah indikator utama penilaian E-Store Project, namun karena datanya kuantitatif sehingga paling mudah dijadikan sebagai dasar perbandingan. Selain indikator keuangan, yang menjadi dasar penilaian lain adalah konsistensi berbisnis, penerapan ICT dalam bisnis, serta kemampuan mengatasi masalah selama berbisnis. Beberapa hal tersebut dapat terlihat dari Weekly Report yang mereka kirimkan.

    clean cling

    Terdapat beberapa catatan dari pelaksanaan E-Store Project kali ini, yaitu:

    1. Ide produk kadang tidak perlu yang terlalu canggih atau terkesan wah. Bisa dilihat dari kelompok MND yang mengusung konsep warung mie online, laba yang dibukukan bisa menjadi yang terbesar. Dengan hanya menjual mie, nasi, dan minuman sederhana, konsumen tidak perlu lagi diedukasi. MND hanya menambahkan keunikan pada jasa delivery dan waktu beroperasi.
    2. Konsistensi kelompok bisnis harus solid sejak business plan dibuat. Waktu yang sempit tidak memungkinkan terjadinya terlalu banyak perubahan dalam pelaksanaan bisnis.
    3. Berapapun hasil yang didapat, kesuksesan hanya bisa dicapai dengan kontinuitas. Dalam 4 minggu berbisnis setiap kelompok mungkin memiliki semangat yang tinggi, tapi apakah semangat tersebut tetap akan stabil jika bisnis dilakukan dalam waktu yang lebih lama?
    4. Menjalankan bisnis bukan berarti melakukan semua aspek sendiri. Maka berkolaborasilah! Misalnya kelompok Venture, Buffee, KoShirt, Krisna, dan Belouchi Perles yang bermitra dalam proses bisnisnya.
    5. Aspek Place dari Marketing Mix pada laporan kelompok bisnis mahasiswa masih disebutkan sebagai lokasi/tempat bisnis. Yang dimaksud dengan Place sebenarnya adalah proses Distribusi, yaitu bagaimana menempatkan produk kepada pelanggan, bukan sekedar menceritakan lokasi/tempat berbisnis.
    6. Meskipun blog atau website kelompok bisnis belum menjadi sarana penjualan yang efektif, namun keberadaannya menjadi cara kelompok bisnis menunjukkan citra atau bonafiditas bisnisnya. Harus diakui bahwa social media masih menjadi sarana penjualan yang efektif bagi kelompok bisnis mahasiswa.
    7. Kelompok bisnis harus mempertimbangkan target pasar di luar Jawa atau bahkan Internasional. Hal ini mengingat persaingan bisnis di kota-kota Besar terutama di pulau Jawa sudah sangat ketat dan adanya peluang go global jika bisnis memanfaatkan ICT.
    8. Beberapa kelompok bisnis mahasiswa belum memperhitungkan beberapa komponen biaya. Misalnya biaya tenaga kerja terutama untuk membayar dirinya sendiri atau biaya utilitas (air, telepon, listrik, internet) karena masih memakai fasilitas pribadi.
    9. Kelompok bisnis harus memperhatikan momentum. Sebagus apapun konsep bisnis atau ide produk, jika momentumnya sudah lewat maka bisnis tidak akan sesukses yang diperkirakan.
    10. Beberapa kelompok bisnis mengklaim kelompoknya sebagai pioneer dan sekaligus market leader. Harus diingat bahwa jika pioneer tidak selalu melakukan updating strategi bisnis, status market leader akan tergeser oleh kompetitor yang lebih siap dan lebih serius dalam menggarap pasar.
    11. Permintaan dari calon pelanggan tidak seluruhnya akan terkonversi menjadi penjualan. Jadi tidak perlu terlalu menyesal dan bersedih hati jika tidak bisa memenuhi semua permintaan calon pelanggan.

    Dengan beragam dinamika yang terjadi mahasiswa diharapkan dapat memahami beragam aspek bisnis karena mengalaminya secara nyata dalam E-Store Project. Akan lebih membahagiakan jika terjadi kelanjutan bisnis yang dilakukan oleh mahasiswa peserta E-Store Project. Maju terus wirausaha Indonesia!!

    2 comments to Wirausaha mahasiswa: return sampai 300% per bulan. Mau??

    • bga  says:

      Artikel bagus pak, refresh ingatan mata kuliah marketing 🙂
      Sedikit share dari pengalaman sehubungan untuk point 9. Momentum betul menjadi salah satu pendorong sukses namun ketidaktepatan bukan hanya karena terlambat saja tapi bisa karena terlalu cepat. Momentum terlambat mudah “diperbaiki” dengan nilai tambah (seperti pada meet nite delivery). Momentum terlalu cepat lebih berat “perbaikannya” karena membutuhkan kesabaran, konsistensi terhadap ide dan edukasi terhadap pasar yang berhubungan lurus dengan kekuatan cash reserve. Contoh nya adalah bhinneka.com dan tokobagus.com.

      • jurryhatammimi  says:

        Betul sekali, Terima kasih atas pencerahannya. Semoga ilmu dari guru kita sebelumnya, bisa terus mengalir (termasuk juga pahalanya). Aamiin..
        Sukses Toko BGA…

    Leave a Reply