• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Penutupan Pabrik, Peluang besar Dji Sam Soe

    buruh-karyawam-pekerja-PT-HM-Sampoerna-rokok-dji-samsoe

    Baru saja kita mendengar kabar tentang ditutupnya dua pabrik rokok PT. HM Sampoerna. HM Sampoerna yang saat ini 98% sahamnya dimiliki oleh perusahaan rokok terbesar dunia Philip Morris mengeluarkan kebijakan yang mengagetkan publik. Kedua pabrik yang memproduksi rokok jenis SKT (Sigaret Kretek Tangan) dan berlokasi di Lumajang dan Jember ini mengharuskan sekitar 4900 tenaga kerjanya untuk rela di-PHK.

    Penyebab penutupan pabrik seperti disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan adalah karena penurunan market share SKT yang menurun hingga 23,1 % pada 2013, padahal market share SKT masih mencapai 30,4 % pada 2009. Volume penjualan SKT Sampoerna pun turun 13 % pada 2013. Selain itu total volume industri SKT sendiri turun 16,1 % hingga kuartal pertama 2014. Karena Sampoerna tidak melihat adanya perubahan tren pada segmen SKT dalam waktu dekat, keputusan penutupan pabrik pun diambil. (Jawa Pos, 18 Mei 2014).

    Sempat beredar rumor yang menyebutkan bahwa penutupan pabrik ini adalah satu strategi kepentingan asing yang ditujukan untuk mematikan merek rokok lokal. Namun secara pemasaran saya malah memandang hal ini sebagai peluang. Ketika informasi tentang penutupan pabrik ini tersebar luas secara internasional, tentu akan diikuti oleh pemahaman pasar bahwa pasokan rokok jenis SKT akan semakin sedikit. Jika mengikuti hukum ekonomi, semakin sedikit pasokan dapat mengakibatkan semakin tingginya harga produk dengan asumsi jumlah permintaan tetap sama. Namun bukan tentang hukum ini yang akan saya bahas lebih lanjut.

    Jika berbicara tentang rokok jenis SKT, tentu yang paling diingat dari produk Sampoerna adalah merek Dji Sam Soe. Merek ini termasuk dalam 10 merek rokok teratas di Indonesia. Merek Dji Sam Soe tipe SKT terdiri dari Dji Sam Soe kretek dan Dji Sam Soe Super Premium. Dengan adanya penurunan produksi Dji Sam Soe, saya malah membayangkan akan terjadi kenaikan kelas bagi merek ini setara dengan cerutu yang biasa dijual di kafe dengan harga yang mahal. Dji Sam Soe Kretek yang sudah diproduksi sejak 100 tahun yang lalu (1913) dan telah melakukan strategi masuk ke pasar kelas sosial yang lebih tinggi dengan menciptakan Dji Sam Soe Super Premium, dapat dibuat menjadi merek yang semakin premium lagi. Sampoerna pernah menciptakan Dji Sam Soe Super Premium Masterpiece pada tahun 2009 yang hanya bersifat temporer, dan ke depan strategi seperti ini bisa diterapkan secara regular.

    Untuk masuk ke pasar super premium berskala internasional, Dji Sam Soe dapat memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

    1. Dji Sam Soe terus mempromosikan diri sebagai merek lokal bersejarah lebih dari 1 abad. Dji Sam Soe harus direposisi sebagai produk heritage sehingga menimbulkan citra yang tidak dimiliki merek rokok lain
    2. Dji Sam Soe harus menunjukkan bahwa produknya ibarat karya seni yang dibuat secara handmade sehingga kadar eksklusivitasnya tinggi
    3. Dji Sam Soe tidak lagi dipasarkan di warung, toko kecil, minimarket, supermarket, maupun hypermarket, tapi mulai dipasarkan di kafe-kafe eksklusif
    4. Dji Sam Soe memposisikan diri sebagai merek yang layak untuk dikoleksi (collectible items). Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan strategi limited edition bernomor seri atau limited edition dengan kemasan bertema khusus.

    Dengan melakukan upgrading target pasar, Dji Sam Soe yang diproduksi lebih sedikit malah dapat menghasilkan pendapatan yang lebih besar. Ditambah dengan meningkatnya kesadaran hidup sehat, konsumsi rokok khususnya SKT yang menurun dapat tergantikan oleh harga yang jauh lebih mahal karena target pasar yang semakin premium. Dji Sam Soe dapat diposisikan sebagai produk untuk merayakan keberhasilan atau terjalinnya kerja sama bernilai ekonomi tinggi layaknya pengkonsumsian cerutu saat ini. Mengingat Indonesia sebagai negara asal Dji Sam Soe dikenal sebagai negara yang eksotis dengan berbagai rempah dan hasil buminya, hal ini menjadi nilai tambah lain dalam menggarap pasar super premium skala internasional.

    Saya harap tulisan ini tidak dianggap sebagai pembenaran bagi Sampoerna untuk menutup pabrik, karena saya pun tidak rela jika hak-hak tenaga kerja di kedua pabrik yang ditutup tersebut tidak terpenuhi dengan baik. Saya pun berharap tulisan ini tidak dianggap sebagai promosi rokok. Semata-mata saya hanya ingin banyak merek produk Indonesia yang bisa mendunia dan sukses di pasar internasional (meskipun jadi bingung juga karena meski merek lokal, produsen Dji Sam Soe ini adalah perusahaan asing. Hehehe…)

    Peringatan Pemerintah: Rokok Membunuhmu.

    unnamed

    Leave a Reply