• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Brexit, The UK Referendum for EU


     

     

     

     

    Kamis 23 Juni 2016 besok merupakan hari bersejarah bagi UK dalam menentukan posisinya terhadap Uni Eropa. Ya, pemerintah UK akan mengadakan referendum bagi warganya untuk memilih apakah UK akan tetap bergabung dalam keanggotaan EU atau keluar.

    Sebagai warga sementara UK sampai 2018 (Aamiin..) meski masa berlaku visa sampai Februari 2020 dan juga tidak memiliki hak suara, saya tetap dapat merasakan ‘kemeriahan’ referendum atau yang populer dengan istilah Brexit ini. Setiap minggunya sejak Maret lalu, minimal 1 brosur selalu saya terima di rumah yang isinya mengkampanyekan pilihan referendum.

    Pemerintah berkuasa UK saat ini adalah pihak yang paling intensif berkampanye dengan pilihan tetap bergabung dengan EU (meski banyak juga anggota Partai Konservatif sebagai partai pemerintah yang memilih keluar dari EU termasuk 5 menteri di kabinet saat ini). Menariknya, referendum ini terselenggara sebagai ‘pembayaran’ janji kampanye PM David Cameron pada pemilu 2015 lalu meski dia menginginkan UK tetap bersama EU.

    Materi kampanye terbesar adalah di bidang ekonomi (UUD alias Ujung-Ujungnya Duit juga 😀 ). Jika tetap bergabung, akses pasar UE ‘katanya’ terjamin dan efeknya akan terasa ke lapangan pekerjaan, investasi, biaya hidup, dll. Di sisi lain, yang ingin keluar dari EU menyoroti kontribusi £20 milyar per tahun dari UK ke EU yang cuma ‘kembali’ ke UK sebesar £9 milyar, ditambah aturan EU yang dianggap semakin merugikan UK. Semua materi kampanye tersebut disampaikan dengan menunjukkan data, pendapat tokoh/ahli, dan beragam prediksi jika masing-masing pilihan terealisasi.

    Bagi pemerintahan PM David Cameron, pilihan tetap bergabung dengan EU setidaknya mengurangi pekerjaan tambahan yang harus dilakukan apabila UK keluar dari EU serta dapat meminimalisasikan risiko kegagalan pembangunan pada eranya. Bagi sektor usaha terutama UKM, kedua pilihan tersebut sepertinya tidak berdampak besar. Pasar UK sudah terbiasa dengan kondisi dinamis seperti harga energi yang naik-turun secara rutin dan konsumen yang kritis serta mudah pindah layanan karena mendapat perlindungan hak yang tinggi. Hal ini dapat terlihat dari posisi terkini beberapa polling yang menunjukkan kedua pilihan terlihat sama kuat. Opsi keluar dari EU hanya sedikit lebih besar (kurang dari 5%) daripada tetap bergabung dengan EU.

    Bagi Indonesia, posisi UK di dalam atau di luar EU pun tidak akan terlalu berpengaruh signifikan, mengingat akun perdagangan RI-UK selama ini pun sudah terpisah tidak digabung dengan EU. Bagi banyak WNI, mungkin keinginan terbesarnya adalah penggabungan visa UK & EU. Tidak terpisah seperti sekarang sehingga biaya lebih rendah dan pengurusan jadi mudah (maaf sedikit curcol..hehehe).

    Mari kita tunggu hasil referendum tersebut. Semoga referendum dapat memberikan lebih besar kemaslahatan mengingat eventnya sendiri harus berjuang keras mencuri perhatian publik di tengah masih berlangsungnya kemeriahan perayaan HUT ke-90 Sang Ratu dan penyelenggaraan piala Eropa 2016.

     

    Leave a Reply