• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • 5 Keuntungan Mahasiswa Berwirausaha

    Meskipun pengangguran terbuka jumlahnya semakin menurun dari tahun ke tahun, namun angkanya masih tetap signifikan jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja yang ada. Data Badan Pusat Statistik pada Februari 2013 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 7,1 juta orang yang bertatus pengangguran terbuka dari 121,2 juta angkatan kerja yang ada. Dari 7,1 juta orang tersebut, 422 ribu orang adalah lulusan S1 dan 193 ribu merupakan lulusan Diploma. Pengangguran berijasah ini dapat terjadi karena kurangnya kualifikasi yang mereka miliki dan semakin sedikitnya lapangan pekerjaan di sektor swasta serta pemerintah. Secara ekstrim, hal ini merupakan keniscayaan sebagai dampak dari kemajuan teknologi dimana fungsi manusia sudah banyak digantikan oleh mesin. Untuk menanggulangi masalah pengangguran tersebut, berwirausaha adalah solusi jitu yang dapat dilakukan.

    Tren kewirausahaan yang terjadi pada saat ini merupakan suatu hal yang patut disyukuri. Terlebih salah satu pelakunya adalah para mahasiswa. Seringkali mahasiswa menyatakan bahwa keuntungan mereka berwirausaha adalah mendapatkan uang sendiri. Memang betul mereka mendapatkan penghasilan sendiri, tetapi apakah cuma itu untungnya mahasiswa berwirausaha? Berikut lima keuntungan lain yang didapat jika mahasiswa berwirausaha:

    1. Langsung mengaplikasikan teori dari kampus kepada bisnis mereka.

    Bisnis yang dididirikan oleh mahasiswa adalah sekaligus sebagai laboratorium bisnis mereka. Penelitian menunjukkan bahwa jika seseorang mempraktekkan sesuatu yang mereka dapat, mereka akan sangat mudah memahami hal tersebut. Hal ini  berdasarkan Rose dan Nicholl yang menyatakan bahwa rata-rata manusia mengingat 90% dari apa yang mereka lihat, dengar, katakan, dan kerjakan. Dengan berwirausaha, mahasiswa bisa langsung mengaplikasikan teori kuliah mereka dan menjadi semakin paham atas apa yang mereka dapat ketika kuliah. Mahasiswa bisa berdiskusi dengan teman-temannya atau meminta konfirmasi kepada dosen terhadap dampak dari teori yang mereka terapkan pada bisnis mereka. Apabila rasa ingin tahu terhadap dampak penerapan teori semakin besar, mahasiswa bahkan bisa melakukan akselerasi dalam mempelajari mata kuliah yang mereka ambil lebih cepat dari yang diberikan di kampus.

    2. Berwirausaha sebagai pengganti waktu belajar.

    Banyak yang berpendapat bahwa jika mahasiswa berwirausaha maka waktu belajar akan terganggu. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Untuk beberapa mata kuliah, misalnya Manajemen Pemasaran, waktu berwirausaha mahasiswa adalah juga waktu belajar mereka. Seperti tertera pada keuntungan nomor 1, mahasiswa bisa langsung mengaplikasikan teori kepada bisnis mereka. Bagi mereka yang bisa mengaitkan mata kuliah dengan bisnis yang dijalankan, berwirausaha adalah belajar dan belajar adalah berwirausaha. Bisa dipastikan pada saat ujian atau mengerjakan tugas, mahasiswa yang berwirausaha akan mudah menuliskan contoh kasus karena bisa langsung menuliskan tentang bisnis yang dijalankannya.

    3. Banyak mentor gratis.

    Ketakutan mahasiswa ketika memulai berwirausaha salah satunya adalah faktor mentor. Mahasiswa takut tidak bisa bertanya atau berkonsultasi dengan orang yang kompeten jika mereka menemui masalah saat menjalankan bisnisnya. Untuk mahasiswa Fakultas Bisnis, ketakutan ini seharusnya tidak boleh ada. Dosen dengan berbagai kompetensi manajemen dan bisnis bisa diposisikan sebagai mentor mereka. Mahasiswa yang berwirausaha tentunya tidak akan dipungut bayaran jika ingin berkonsultasi dengan dosennya sendiri, selama tidak mengganggu tugas utama dosen. Dosen yang menjadi mentorpun sebenarnya bisa mendapatkan manfaat dari kegiatan mentoring bisnis kepada mahasiswa. Dosen bisa menjadikan mentoring bisnis sebagai wahana Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat. Jika dosen jeli, bisnis mahasiswa bahkan bisa dijadikan sebagai sarana investasi. Bisnis mahasiswa yang prospektif bisa saja lebih menguntungkan daripada dana lebih yang dimiliki para dosen (jika ada) cuma “parkir” di tabungan atau skema penyimpanan dana konvensional lain.

    4. Banyaknya kompetisi kewirausahaan.

    Tren kewirausahaan yang pesat saat ini, ditandai juga dengan banyaknya kompetisi kewirausahaan yang diselenggarakan oleh berbagai pihak. Dari sebagian besar kompetisi tersebut, banyak yang mensyaratkan pesertanya harus mahasiswa. Jika sudah berstatus alumni, tentunya kesempatan mengikuti kompetisi kewirausahaan semakin kecil. Hadiah yang dapat diraih oleh peserta jenisnya beragam. Hadiah tersebut bisa berupa uang tunai yang dapat dipakai sebagai tambahan modal bisnis mahasiswa, program pendampingan atau mentoring bisnis oleh praktisi berpengalaman dalam jangka waktu tertentu, mahasiswa akan dipertemukan dengan investor, atau mungkin mahasiswa menjadi bintang iklan produk penyelenggara kompetisi. Secara tidak langsung, liputan media pun menjadi bonus tambahan bagi mereka yang menang. Untuk mahasiswa yang belum berwirausaha dan masih pada tahap perencanaan dapat juga mengikuti beberapa kompetisi wirausaha yang ada. Beberapa kompetisi bahkan ada yang mengkhususkan diri pada kompetisi business plan. Kompetisi seperti ini tentunya memberi keuntungan tersendiri bagi mahasiswa. Kompetisi sekaligus menjadi wahana pengujian kelayakan atas rencana bisnis yang akan dijalankan. Jika dinobatkan sebagai pemenang, selain mendapatkan hadiah-hadiah yang telah disebutkan sebelumnya, mahasiswa pun menjadi percaya diri dengan rencana bisnis yang akan dijalankan. Beberapa kompetisi kewirausahaan yang dapat diikuti oleh mahasiswa diantaranya adalah Wirausaha Muda Mandiri, AGF-BC Community Entrepreneurs Challenge, Office 365 Apprentice, Diplomat Success Challenge, IMulai, Indigo Incubator, INAICTA, Shell Livewire Business Start-Up Awards, dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) – Kewirausahaan.

    5. Ketahui potensi dan minat sejak dini.

    Berwirausaha memang tidak memiliki batasan usia maksimum maupun minimum. Berwirausaha yang dilakukan sejak dini dapat menjadi media pengenalan potensi dan minat diri seseorang atas bidang dan jenis bisnis yang cocok untuk dijalankan. Jika mahasiswa sudah berstatus alumni, memulai berwirausaha memiliki beban yang lebih berat, apalagi jika paradigmanya masih mencari kerja setelah lulus. Untuk paradigma seperti ini, ketakutan atas resiko bisnis yang mungkin muncul menjadi penghambat yang signifikan dalam memulai bisnis. Jika bisnis yang dijalankan mengalami kegagalan, perasaaan malu dan merasa rugi atas waktu dan tenaga yang sudah dikeluarkan akan langsung dibandingkan dengan potensi gaji sebagai pegawai yang seharusnya didapat. Bagi yang berparadigma pencari kerja sekalipun, kuliah sambil berwirausaha dan memulai bisnis sejak semester awal adalah langkah yang tepat untuk mengetahui potensi dan minat berkarir sejak dini. Jika mahasiswa berwirausaha, ketakutan atas resiko bisnis yang mungkin muncul dapat ditekan karena bukan sebagai alumni yang harus segera menentukan pilihan pekerjaan. Dengan berwirausaha sejak semester awal, mahasiswa memiliki banyak kesempatan untuk memilih dan mencoba bidang dan jenis bisnis yang cocok untuk dijalankan. Bahkan jika ternyata mahasiswa merasa berwirausaha bukanlah pilihan pekerjaan yang sesuai, mereka akhirnya dapat memilih untuk menjadi pegawai dengan tenang. Setidaknya mereka pernah mencoba dan merasakan berwirausaha itu seperti apa.

    student entre

    Lima keuntungan tersebut memang sangat relevan jika mahasiswa yang dimaksud adalah mahasiswa Fakultas Bisnis. Adapun bagi mahasiswa yang bukan dari Fakultas Bisnis, keuntungan tersebut tetap bisa didapat dengan cara berusaha mengakses dosen di Fakultas Bisnis, bergabung dengan komunitas wirausaha, atau berkolaborasi dengan rekan mereka di Fakultas Bisnis. Jika mahasiswa memutuskan untuk berwirausaha lebih cepat yakni sejak semester awal, lima keuntungan tersebut tentunya akan didapat lebih cepat pula. Selamat berwirausaha!!

     

    sumber gambar: http://www.davidblerner.com/

    Leave a Reply